Total Tayangan Halaman

Rabu, 29 Februari 2012

Di Balik GUNUNG EMAS Terbesar Di Dunia

Awal mula cerita :

Sesuai dengan Hukum Indonesia
Surat kabar International Herald Tribune menurunkan dua tulisan bersambung mengenai praktek-praktek ‘kelabu’ yang dijalankan Perusahaan Tambang Emas dan Tembaga Amerika Freeport Mc Moran di Papua. Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh harian The New York Times, Freeport McMoran, yang disebut sebagai perusahaan tambang emas terbesar dunia, memberi pembayaran sebesar $20 juta dolar antara 1998 sampai 2004 kepada para jendral tentara dan polisi, kolonel, mayor, kapten, dan satuan-satuan militer. Sedangkan para komandan secara perorangan menerima puluhan ribu dolar.
Freeport dalam tanggapan tertulisnya mengatakan, apa yang dilakukan sudah sesuai dengan hukum Indonesia dan Amerika. Aparat keamanan ini harus memberi perlindungan kepada 18 ribu karyawan dan tidak ada pilihan lain bagi mereka kecuali tergantung pada tentara dan polisi Indonesia. Demikian tanggapan tertulis Freeport.

Mematai-matai Aktivis Lingkungan
Penyelidikan The New York Times juga mengungkap bahwa perusahaan itu menyadap surat elektronik e-mail dan pembicaraan telepon untuk memata-matai para lawan, yaitu aktivis lingkungan hidup. Hal ini, demikian salah satu karyawan yang pernah mendapat tugas untuk membacai pelbagai email, dilakukan bersama-sama dengan para pejabat intelijen militer Indonesia. Mengenai hal ini, Freeport tidak bersedia memberikan komentar.
Hubungan saling menguntungkan antara Freeport dengan pemerintah dan militer bisa ditelusuri sampai tahun 1960an, ketika perusahaan itu menginjakkan kakinya di bumi Papua. Sebagai perusahaan asing pertama, Freeport membangun jalan-jalan dan infrastrukktur di wilayah yang sulit dan bergunung-gunung itu.
Untuk mengamankan wilayah dan investasinya, maka Freeport melalui James Moffet memanjakan mantan diktator Soeharto beserta para kroninya. Freeport membayar liburan mereka, uang kuliah anak-anak mereka dan membantu dalam mendapatkan kesepakatan-kesepakatan yang membuat mereka kaya. Demikian kesaksian para karyawan dan bekas karyawan.
Sebaliknya di Amerika sendiri, Moffet berpaling pada tokoh-tokoh berpengaruh seperti Henry Kissinger dan J. Stapleton Roy, mantan dubes Amerika di Indonesia. Bersama para mantan pejabat militer dan dinas rahasia CIA, para sekutu berpengaruh ini membantu Freeport McMoran dalam meniti jalan berkelok-kelok politik Indonesia. Dan pada saat yang sama semakin memperteguh keterkaitan perusahaan dengan militer.
Jatuhnya Soeharto menyebabkan Freeport harus bersikap low profile, istilah yang dipakai Moffet adalah “no tall trees” artinya “jangan ada pohon tinggi.” Di lain pihak, para aktivis lingkungan hidup makin efektif dalam berkoordinasi dan suku-suku setempat semakin resah melihat sedikitnya imbalan yang diterima dari kekayaan alam mereka yang ditambang secara besar-besaran itu. Ketegangan sosial sekitar penambangan semakin meningkat. Para komandan militer melihat ini sebagai peluang untuk dinikmati. Kalau dulu Freeport mengandalkan pada kekuataan keamannya sendiri, dan tentara memperangi pemberontak. Tapi sedikit demi sedikit, kepentingan mereka semakin terkait.



Memang tidak ada penyelidikan yang menetapkan bahwa Freeport terlibat dalam pelanggaran hak-hak azasi manusia. Tapi di mata rakyat Papua, konglomerat emas ini semakin dikaitkan dengan pelanggaran yang dilakukan oleh satuan-satuan militer yang dalam sejumlah kasus menggunakan fasilitas Freeport.
Kemarahan penduduk mencapai puncaknya pada Maret 1996, dengan aksi protes terbesar yang pernah berlangsung sampai-sampai kegiatan perusahaan harus berhenti selama tiga hari. Para pemrotes merusak sekitar 3 juta dolar peralatan dan perkantoran. Menurut para pejabat Freeport, di antara perusak terdapat pria-pria berambut cepak, bersepatu boot, dan menggunakan walkie talkie.
Moffet segera terbang ke Indonesia dan bertemu dengan sekelompok perwira senior Indonesia di Hotel Hilton di Timika. Jendral Parbowo Subianto mengatakan “Moffet untuk melindungi kamu, perusahaanmu, kamu harus bantu tentara di sini.” Demikian Prabowo seperti diceritakan oleh seorang karyawan. Moffet kabarnya menjawab “katakan saja apa yang harus aku lakukan.”
Freeport McMoran menghabiskan 35 juta dolar bagi infrastruktur militer: barak, mes, jalan. Mereka juga memberi 70 LandRovers yang diganti setiap beberapa tahun. Semua diuntungkan. Freeport telah mengeluarkan sedikitnya 20 juta dolar untuk tentara dan polisi antara 1998 sampai 2004. Sekitar 10 juta dolar lainnya juga dibayarkan pada periode itu. Demikian International Herald Tribune.
New York Times :

beberapa hari yg lalu the new york times menurunkan laporan investigasi mereka ttg limbah tambang freeport-mcmoran di papua dan ttg kolusi papan atas antara petinggi militer/sipil yg bertugas di papua dng perusahaan freeport. menurut laporan, sejak 1998 freeport sdh menghabiskan tdk kurang dr us$35 juta utk membangun infrastruktur militer spt barak, kantor, jalan, dan mobil2 land cruisers/rovers utk komandan2 militer; dan us$20 juta (hampir 200 miliar rupiah) utk para jendral, kolonel, mayor dan kapten yg bertugas di wilayah tsb. menurut data yg berhasil didapat NYT, dr para petinggi militer tsb letkol togap gultom adl penerima dana terbesar. dlm separuh tahun 2001 saja, menurut data dia menerima $100,000 (sktr 1 mill rupiah) hanya utk “ongkos makan.” tahun berikutnya dia menerima lbh dr $150,000, sedangkan 10 komandan yg lain menerima $350,000 “ongkos makan.”
gak cuma ongkos2 semacam ini, menurut NYT, freeport jg membiayai jalan2 para petinggi militer dan keluarganya. brigjen ramizan tarigan misalnya mendapat tiket jalan2 utk keluarga seharga $14,000 di thn 2002. di thn yg sama mayjen mahidin simbolon menerima $64,000 utk proyek2 tdk jelas spt “dana proyek militer,” kemudian sebesar $67,000 utk “proyek kemanusian”. di jaman suharto, hal2 spt ini memang menjadi norma. freeport membiayai liburan2 dan sekolah cucu2 suharto di luar negeri. para jendral yg disebut dlm laporan semua menolak berkomentar kpd NYT. the associated press yg memuat follow-up dr laporan NYT berhasil mendapat komentar dr mayjen simbolon yg mengaku bhw memang institusi militer di papua dibiayai oleh freeport. terlebih lagi, menurut laporan yg didapat AP, antara thn 2002-3 jendral simbolon menerima $247,705 dr freeport. atas semua klaim di atas, freeport membela diri dng mengatakan bhw pengeluaran kepada unit2 militer dan komandan2 tsb bukanlah sogokan, tapi “biaya keamanan.”
membaca laporan2 tsb kesannya negara kita ini diperintah oleh segerombolan bandit atau preman yg memungut pungli dng ancaman kalau gak bayar bakal diganggu. dr laporan NYT, ada dugaan kuat bhw militer berada dibalik huru-hara thn 1996 yg menyebabkan penyanderaan bbrp pegawai freeport (kalau tdk salah ada yg meninggal dlm penyandraan tsb). jelas skl bg eksekutif freeport bhw militer ada dibalik demonstrasi anti freeport tsb, krn prabowo subianto yg menjadi bintang penyelamat mereka pd wkt itu kemudian “menyindir” bos freeport (dlm pertemuan mereka) agar memberi bantuan pd militer kalau ingin operasinya berjalan aman. menurut NYT, sejak kejadian tsb freeport setuju utk menyisihkan 1% dari revenue tahunannya utk dana pembangunan papua yg disalurkan utk pembangunan sekolah, pelayanan kesehatan dan pembangunan jalan.
sangat menggiriskan!! 1% utk papua!! tdklah heran kalau negara kita yg katanya kaya akan natural resources, apalagi papua yg punya kandungan emas terbesar di dunia (jg menurut NYT), penduduknya malah masuk kategori paling miskin sedunia (menurut saya sendiri). mental pemerintah kita adl selalu menjual kekayaan alam utk diolah perusahaan asing, dan kita cukup menerima sekian persen dr pengolahan tsb. dr sepeser yg diberikan oleh perusahaan asing tsb, banyak yg malah masuk kantong2 pribadi spt yg disebutkan di atas. yg diterima oleh rakyat indonesia?? wallahualam… only heaven knows! yg kita tau adl 1% utk papua.
hal2 spt ini yg membuat aku bengong wkt masalah ambalat dng malaysia diributkan sbg nasionalisme membela tanah air. di makassar dilaporkan org2 yg mendaftar utk berjihad di malaysia. di jawa, bbrp perguruan pencak silat siap dimobilisasi utk perang dng malaysia. salah seorang teman dekatku bahkan bilang kalau indonesia jd perang dng malaysia, dia bakal ikut sbg sukarelawan. mendengar ucapannya aku buru2 bilang bhw pemerintah indo dan malaysia berebut ambalat utk menjual hak olahnya pd 2 perusahaan tambang minyak asing. sama skl gak ada hubungannya dng membela tanah air. jadi, kataku wkt itu, cuma org bego yg mau mati utk shell, british petroleum, petrochina, dsb.
anyway, inti dr laporan investigasi NYT sebenarnya adl ttg limbah tambang yg menimbuni sungai aikwa. menurut laporan freeport sendiri, limbah tsb sepanjang 8 km2 dan di bbrp tempat sedalam 275 m. thdp teguran dr berbagai NGO lingkungan hidup, termasuk ex-mentri sonny keraf sendiri, freeport hanya mengatakan bhw limbah mereka tdk berbahaya dan bhw pembuatan pipa utk pembuangan limbah akan memakan trll bnyk biaya. tetapi, menurut bbrp agencies yg menjadi konsultan dr perusahan asuransi yg dipakai freeport, limbah tsb telah menyebabkan “massive die-off” pd vegetasi di sepanjang sungai. sample2 jg menunjukkan bhw air sungai mengandung racun yg cukup utk membunuh organisme2 sungai yg sensitif. kemunculan tumbuhan yg berwarna hijau terang sepanjang bbrp km di tepi sungai jg menunjukkan bhw kandungan tembaga dr limbah telah mencemari sungai.
dr semua ini, sekali lagi, apa yg didapat oleh orang papua?? yg kita tau cuma yg 1% tadi itu…
yg jg menarik disebutkan adl laporan investigasi yg dilakukan oleh NYT ini rupanya tdk begitu mendapat tanggapan di indonesia. hanya ada satu berita kecil di tempo, tapi tdk menyebutkan satu pun nama jendral yg diberitakan menerima duit dr freeport. ternyata kompas masih kempes, dan tempo msh spt tempe ketika berhadapan dng kakerlak2 baju ijo.
sources:
“The Cost of Gold, the Hidden Payroll: Below a Mountain of Wealth, a River of Waste,” The New York Times, 27 Dec 2005.
“Indonesian generals tell of gold miner ‘support’,” International Herald Tribune, 30 Dec 2005.




Tahukah kawan2 bahwa masa kolonial belanda, adalah seorang geolog belanda yg menemukan bukit2 emas di papua hingga menamai pegunungan tersebut dengan grasberg (gunung emas), dan sebab itu pula belanda mati2 an mempertahankan wilayah jajahan khusus papua barat, hingga menyebabkan pertempuran hebat dalam sejarah nasional. lalu dokumen ekspedisi geolog belanda tersebut tidak digubris oleh pemerintah belanda karena sibuk dengan perang dunia ke II, setelah perang dunia usai dokumen berdebu tersebut ditemukan oleh salah satu pejabat freeport di salah satu perpustakaan belanda, bagai menemukan harta karun, mereka langsung terbang ke papua dan meloby pihak penguasa ordebaru.
ternyata ada kesalahan fatal dari dokumen yg dibuat geolog belanda tersebut, disebutkan bahwa bukit2 mengandung emas hanya setinggi 100m, setelah diteliti oleh pihak freeport geolog belanda tersebut melakukan salah perhitungan, dan sekitar 400m keatas dan sampai 1km kebawah tanah, bukit2 emas tersebut mengandung emas kualitas terbaik dunia. Dan negara kita seharusnya menjadi negara adidaya dan tidak ada kemiskina karena Negara Kita punya GUNUNG EMAS TERBESAR dengan KUALIATAS TERTINGGI di Dunia !!!.

Rabu, 23 November 2011


Amerika Serikat Dan Pemberontakan Prri-permesta

MAKALAH SEJARAH HUBUNGAN

AMERIK SERIKAT-INDONESIA

“AMERIKA SERIKAT DAN PEMBERONTAKAN PRRI/PERMESTA”

Erika (0706291243)
Muti Dewitari (0706165570)
Rindo Sai‟o (0706195583)
Winda (0706291464)
Yandri Mardani Sumardi (0706299731)

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS INDONESIA
2009
Page | 2
Deskripsi PRRI/Permesta

Suasana demokrasi liberal di tahun 1950-an telah menimbulkan kekacauan dan pergolakan-pergolakan dengan kekerasan. Pemilihan umum yang dilaksanakan tahun 1955 tidak berhasil menghilangkan ketidakadilan di bidang politik, ekonomi dan sosial. Daerah-daerah di luar Jawa merasa dianaktirikan oleh Pemerintah Pusat, sehingga di beberapa daerah muncul gerakan-gerakan menuntut otonomi luas. Di bidang ekonomi dan perdagangan hasil ekspor yang sebagian berasal dari daerah-daerah luar Jawa, pembagian penggunaan di Pulau Jawa dianggap tidak adil. Di samping kekecewaan-kekecewaan tersebut, ada suatu masalah yang cukup serius yang mendorong Letnan Kolonel Ahmad Husein di Sumatera Barat bertekad menentang pemerintah Pusat, yaitu adanya penilaian bahwa Bung Karno dianggap mulai dipengaruhi Partai Komunis Indonesia.

Pada akhir bulan Desember 1956 dan permulaan tahun 1957 terjadi pergolakan menentang pemerintah Pusat, di Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Sulawesi. Pergolakan ini dimulai dengan pembentukan “Dewan Banteng” di Sumatera Barat tanggal 20 Desember 1956 dipimpin Letnan Kolonel Achmad Hussein. Tindakan pertama dilakukan dengan mengambil alih pimpinan pemerintah Sumatera Barat dari Gubernur Ruslan Muljohardjo. Dua hari kemudian, tanggal 22 Desember 1956 di Medan (Sumatera
Utara) terbentuk “Dewan Gajah”, dipimpin Kolonel Maludin Simbolon, yang menyatakan
bahwa Sumatera Utara melepaskan diri untuk sementara dari hubungan dengan pemerintah
Pusat. Bulan Januari 1957 “Dewan Garuda” mengambil alih pemerintahan dari Gubernur
Winarno. Pada tanggal 2 Maret 1957 di Manado diumumkan “Piagam Perjoangan Semester
(PERMESTA)” oleh Letnan Kolonel Sumual, menentang pemerintah Pusat.1

Tahun 1958 didirikan organisasi yang bernama Gerakan Perjuangan Menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang diketuai oleh Letnan Kolonel Achamad Husein. Gerakan Husein ini akhirnya mendirikan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang berkedudukan di Bukittinggi dengan Syafruddin Prawiranegara sebagai pejabat presiden.
1Panitia Penulisan Sejarah Diplomasi Republik Indonesia, Sejarah Diplomasi Republik Indonesia Dari Masa
Ke Masa: Periode 1950-1960, (Jakarta: Departemen Luar Negeri RI, 2005), hal. 372.
Page | 3

Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada hari berikutnya mendukung dan bergabung dengan PRRI sehingga gerakan bersama itu disebut PRRI/Permesta. Permesta yang berpusat di Manado tokohnya adalah Letnan Kolonel Vantje Sumual, Mayor Gerungan, Mayor Runturambi, Letnan Kolonel D.J. Samba, dan Letnan Kolonel Saleh Lahade.

Lima puluh tahun yang lalu, tepatnya 20 Desember 1957, di sebuah kota kecil di pesisir barat pantai Sumatera yang bernama Salido, berlangsung suatu sidang reuni para militer pejuang yang tergabung dalam Resimen IV Divisi Banteng Sumatera Tengah.2 Reuni tersebut menghasilkan dan membentuk suatu badan organisasi yang dinamai "Dewan Banteng" dengan tokoh-tokoh militer seperti Kolonel Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek, Kolonel M. Simbolon dan lain-lain sebagai para atasan dan penggeraknya. Namun, pada 15 Februari 1958, atas prakarsa "Dewan Banteng", organisasi yang dilahirkan dari hasil reuni militer yang dikepalai oleh Letkol Achmad Husein, Kolonel Dahlan Jambek dan Kolonel Maludin Simbolon, "diproklamirkan" sebuah pemerintahan baru yang bernama "Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia" yang disingkat dengan sebutan PRRI, dengan kota Padang sebagai "ibukota negara" dan Mr. Syafrudin Prawiranegara sebagai "Presiden PRRI". Proklamasi PRRI ini, menjadi titik awal perlawanan secara terbuka terhadap kepemimpinan Presiden Sukarno dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ranah Minang dikuasai oleh oknum-oknum, baik militer maupun sipil, yang tidak merasa puas dengan kepemimpinan Bung Karno, dan membawa rakyat Minangkabau untuk memberontak melepaskan diri dari ikatan persatuan NKRI. Sementara itu, dalam waktu yang sama, di bagian Timur tanah air, juga timbul satu pemberontakan yang senada, perlawanan terhadap NKRI di bawah pimpinan Letkol Ventje Sumual, dengan membentuk pemerintah tandingan yang bernama PERMESTA (Pemerintah Rakyat Semesta).

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh pemimpin-pemimpin gerakan-gerakan tersebut sama, tidak lain adalah pemerintah Pusat dianggap kurang memperhatikan keadaan daerah disertai tuntutan menambah anggota kabinet dengan Mohammad Hatta dan Sri Sultan Hamengkubuwono. Menghadapi tantangan dari daerah-daerah, pemerintah Pusat memprakarsai Musyawarah Nasional di Jakarta yang berlangsung tanggal 9 hingga 11
2 Yoseph Tugio Taher, “Fakta Sejarah PRRI”, diakses darihttp:// www. kab ar ind o nes ia.co m/ber ita.p hp ? p il
=20&dn=20071202041451
Amerika Serikat Dan Pemberontakan Prri-permesta
Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document
Info and Rating
Humanities
Follow
Erika Angelika

Page | 14

RRT, Korea Utara dan Vietnam Utara—yang kesemuanya beraliran komunis. Di luar negeri Sukarno juga sedang hebat-hebatnya menggalang persatuan Negara-negara berkembang Asia dan Afrika guna menentang kaum imperialis. Di dalam negeri, Sukarno menolak bantuan Amerika yang disalurkan lewat program USAID (United State Aid), serta mengisyaratkan kemungkinan pengambilalihan perusahaan Amerika Serikat seperti Calltex, Stanvac, Good Year dan Union Carbide.22

Menanggapi ketidaksukaannya pada AS, Bung Karno sering mendapat pertanyaan, apakah sikapnya anti Amerika? Bung Karno pun lantas menjawab: "Bertahun-tahun lamanya aku sangat ingin menjadi sahabat Amerika, akan tetapi sia-sia".23 Pernyataan Bung Karno tersebut menyiratkan bahwa sebenarnya ia tidak membenci Amerika, akan tetapi berbagai perlakuan tidak menyenangkan yang diterimanya dari AS—mulai dari keterlibatan AS pada PRRI/Permesta yang menunjukkan betapa AS tidak menghormati dan berusaha mengaduk-aduk kedaulatan Indonesia, sampai pada sikap tidak bersahabat Presiden Eisenhower pada Bung Karno ketika Bung Karno mengunjungi Washington pada tahun 1960—membuat Bung Karno tidak bisa tidak membenci AS.
Memburuknya Hubungan Diplomatik antara Indonesia-Amerika Serikat, dan Berubahnya
Orientasi Politik Luar Negeri Indonesia menjadi Condong ke Arah Komunis

Keterlibatan AS dalam PRRI/Permesta telah membuat Indonesia berang. Indonesia pun memutuskan untuk membeberkan keterlibatan AS ini dalam forum internasional. Konferensi Asia-Afrika II dianggap merupakan momen yang tepat untuk membeberkan keterlibatan ini. Menteri Luar Negeri Indonesia, Dr. Subandrio pun menyiapkan pengumuman yang rencananya akan disampaikan dalam konferensi itu, bahwa Indonesia mempunyai bukti adanya satu plot Amerika-lnggris akan mengadakan serangan militer terhadap Indonesia. Sayangnya, konferensi itu batal dilaksanakan. Namun pembatalan konferensi tidak lantas membatalkan niat Indonesia untuk membeberkan kesalahan AS ini. Dr. Subandrio pun kemudian memberikan interview kepada wartawan harian terbesar di Kairo,
22Manai Sophiaan,o p .cit.
23Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, (Jakarta: Media Pressindo, 2007), hal. 430.
Page | 15
Al-Ahram, mengenai rencana Amerika-lnggris tersebut.24 Semenjak itu, ketegangan pada
hubungan AS-Indonesia makin terasa mencekam.

Memburuknya hubungan diplomatik AS-Indonesia kemudian melahirkan perubahan orientasi politik luar negeri Indonesia, yang tadinya cukup dekat dengan negara Barat menjadi semakin ke arah kiri. Jakarta tampak lebih akrab dengan Moskow, Beijing maupun Hanoi, dan tampak garang terhadap AS dan sekutu Baratnya.25 Memang tidak dapat dipungkiri, antara dekade 50-an hingga pertengahan 60-an, Bung Karno merupakan sosok yang penuh dengan kontroversi, hal ini dikarenakan karena visi politik luar negerinya yang kelewat agresif. Keagresifan Bung Karno antara lain ditandai dengan pembentukan NEFOS (New Emerging Forces) yang beranggotakan negara-negara Dunia Ketiga, serta gagasan
pembentukan “Poros Jakarta-Beijing-Pyongyang” yang kesemuanya semakin menunjukkan
kedekatan Indonesia dengan komunis.26

Ironisnya, keterlibatan AS dalam PRRI/Permesta yang sebenarnya bertujuan untuk menggulingkan Soekarno yang ketika itu dinilai mulai menunjukkan orientasi politik kiri, justru membuat Presiden Soekarno semakin anti pada AS dan semakin dekat dengan negara-negara komunis. Penulis menilai, keterlibatan AS dalam PRRI/Permesta terbukti
malah “mendorong” Indonesia ke tangan komunis, bukan menyelamatkannya.
Munculnya dukungan dari Amerika Serikat pada TNI dan Meningkatnya Konflik Dalam
Negeri akibat Dukungan tersebut

Kegagalan PRRI/Permesta dalam menggulingkan Soekarno tidak lantas membuat AS—dalam hal ini, CIA—putus asa dan menghentikan usahanya untuk membasmi komunis di Indonesia. Pada 1 Agustus 1958, AS mulai memberikan bantuan militer senilai dua puluh juta dollar per tahun27 pada Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Sebuah memo
24Manai Sophiaan,lo c. cit.
25 Riza Sihbudi. Politik Luar Negeri RI Mau Ke Mana?. http://www.polarhome.com/pipermail/nasional
-m/2002-October/000341.html, diakses pada 18 Febuari 2008, pukul 15.42.
26Sinar Harapan. Melihat Arah Politik Luar Negeri Indonesia, Dari Bung Karno yang Vokal ke Mbak Mega
yang Bungkam. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0107/27/lua02.html, diakses pada 3 Mei 2008, pukul
12.09.
27Declassified Documents Quarterly Catalogue, 1982, 002386; 1981, 367A
Page | 16
dari US Joint Chiefs of Staff yang dikeluarkan pada 1958 menyatakan bahwa bantuan ini
diberikan pada ABRI yang dianggap merupakan “the only non-Communist force ... with the
capability of obstructing the ... PKI"—satu-satunya kekuatan non-komunis, yang memiliki
kapabilitas untuk menghancurkan PKI. Bantuan ini juga menunjukkan dukungan AS pada
Nasution untuk menjalankan „rencananya‟ mengontrol komunisme di Indonesia.28AS

menilai Nasution memiliki visi yang sama dengannya: membasmi komunis di Indonesia—yang dibuktikan dengan peran besar Nasution dalam menghancurkan PKI pada Pemberontakan Madiun tahun 1948.29

Dukungan yang diberikan AS pada ABRI—khususnya pada Nasution—ini pada akhirnya akan sangat berpengaruh pada eskalasi konflik dalam negeri, terutama yang berhubungan dengan berbagai usaha penumpasan PKI dan antek-anteknya. Soekarno yang pada saat itu semakin menunjukkan orientasi politik ke kiri juga merupakan tujuan dari berbagai upaya penumpasan PKI ini. Peristiwa Gestapu/G-30S-PKI kemudian membuktikan betapa sebuah dukungan dari AS pada Nasution dkk. kemudian sangat berpengaruh dalam upaya penggulingan Soekarno tersebut.
28Ib id., 1982, 002386 (JCS Memo for SecDef, 22 September 1958).
29Peter Dale Scott, “The United States and the Overthrown of Soekarno, 1965-1967”, dalam Pacific Affairs, 58,
Summer 1985, hal. 239-264. Dapat pula diakses melalui internet pada http://www.namebase.org/scott.html.
Amerika Serikat Dan Pemberontakan Prri-permesta
Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document
Info and Rating
Humanities
Follow
Erika Angelika
Share & Embed
Related Documents
PreviousNext

p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.
p.

More from this user
PreviousNext

3 p.
2 p.
3 p.
3 p.
3 p.
3 p.
6 p.
3 p.
3 p.
42 p.
6 p.
3 p.
8 p.
11 p.
22 p.
23 p.
5 p.
14 p.
5 p.
6 p.
5 p.
2 p.
16 p.
14 p.
16 p.

Recent Readcasters
Ies Achmad Membla
Nada Riskia
Add a Comment
Iksan Okto Ginting

Iksan Avatarr Gintingleft a comment

.,,.........

03 / 14 / 2010
Upload a Document
Search Documents

Follow Us!
scribd.com/scribd
twitter.com/scribd
facebook.com/scribd

About
Press
Blog
Partners
Scribd 101
Web Stuff
Support
FAQ
Developers / API
Jobs
Terms
Copyright
Privacy

Copyright © 2011 Scribd Inc.
Language:
English

Senin, 21 November 2011

Banyak warga Indonesia jadi tentara malaysia

Temuan Komisi I DPR perihal pencaplokan wilayah di Dusun Tanjung Datu dan Camar Bulan di Kalimantan Barat oleh Malaysia bukan omong kosong. Hakim konstitusi Akil Mochtar percaya terhadap adanya pencaplokan daerah perbatasan yang membuat wilayah seluas 1.495 hektare di darat dan 80 ribu hektare luas wilayah laut Indonesia hilang.

Bahkan, Akil mengungkap, pencaplokan itu disadari penuh oleh 1.883 warga atau 493 kepala keluarga Dusun Tanjung Datu dan Camar Bulan. Sebagai orang kelahiran Putusibau – berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat atau sekitar 814 kilometer dari ibu kota Kalimantan Barat, Pontianak – masyarakat mengetahui pemerintah Malaysia melakukan pembangunan infrastruktur di wilayah Indonesia. “Program ini disambut warga Indonesia di sana sebab selama ini mereka lebih merasa diperhatikan oleh Malaysia,” kata Akil kepada Republika, Rabu (12/10).
Karena sering bepergian ke Serawak, Akil mengungkap, tidak jarang warga Indonesia menjadi Polis Diraja Malaysia atau Tentara Diraja Malaysia. Meski begitu, mereka tidak pindah kewarganegaraan dan akhirnya bebas keluar masuk Indonesia-Malaysia.

Ketika mencapai batas pensiun di umur 48 tahun, kata Akil, banyak aparat Malaysia itu kembali ke tempat kelahirannya di daerah perbatasan Indonesia. “Ini bukan hal baru bagi warga perbatasan. Semuanya tahu soal ini. Karena nasionalisme tanpa pembangunan, itu omong kosong,” ujar Akil. (Sumber: Republika.co.id)

Jumat, 08 April 2011

Kuasai Saham di PT. Timah dan PT. Koba Tin

oleh Arka'a Ahmad Agin pada 30 Maret 2011



Ayo KITA KUASAI TIMAH UNTUK DAERAH": kita harus mulai sadar selama ini daerah kita penghasil utama timah dunia. Begitu semangatnya kita bahas pro-kontra PLTN. Dan kita tahu ternyata daerah kita kaya akan logam tanah jarang (LTJ) yang diperebutkan dunia dari hasil pengolahan biji timah, mengapa pemerintah dan DPRD kita tidak mau berjuang kuasai timah. Mengapa kita tidak membuat gerakan publik untuk membahas masalah ini. Seminar-seminar digelar, gerakan politik-ekonomi daerah dipertegas. SOLUSINYA: DAERAH KITA HARUS MILIKI SAHAM DI PT.TIMAH DAN PT.KOBA TIN MINIMAL 40%. AYO KITA BERSATU UNTUK BANGUN DAERAH, DPRD DAN PEMDA HARUS BERANI"